Make Top Rank Blog

Senin, 03 Desember 2012

Contoh Study Kasus


LAPORAN STUDI KASUS
 LAYANAN BIMBINGAN  DALAM MENGATASI  KESULITAN BELAJAR DAN MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
KELAS IX DI SMP ADVENT MALANG











 
    Oleh :

BLASIUS RIA KOLING BARIKO
NPM: 090401020085










UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
2012



KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kurnia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan studi kasus ini di SMP ADVENT MALANG dengan tepat waktu. Adapun laporan ini disusun sebagai persyaratan penyelesaian kegiatan akademik dalam Prakti Pengalaman Lapangan (PPL) 
Selesainya Laporan ini tidak terlepas dari bantuan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1.      Bapak Dr. Hadi sriwijaya, M.M selaku rector Universitas kanjuruhan Malang.
2.      Bapak Drs. Sulistyo, M.Ak selaku Kaprodi Pendidikan Ekonomi  universitas kanjuruhan Malang.
3.      Bapak Drs.Choirul Huda M.si selaku Pembimbing lapangan  (PPL)
4.      Ibu masanta sinaga S.Pd selaku Kepala Sekolah SMP ADVENT Malang, yang telah memberikan tempat untuk menulis dan melaksanakan PPL.
5.      Ibu Meeryam lusiana S.Pd selaku guru pamong yang telah memberikan pengarahan dan saran-saran.
6.      Ibu Meeryam lusiana S.Pd, selaku guru IPS yang telah membantu saya dalam melaksanakan PPL.
7.      Siswa-Siswi SMP ADVENT Malang  yang telah banyak membantu jalannya praktik.
8.      Semua teman-teman PPL di SMP ADVENT Malang yang senantiasa membantu dan bekerjasama.
            Studi Kasus ini disusun sebagai salah satu tugas akhir yang harus  diselesaikan oleh mahasiswa peserta PPL yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu yang telah diperoleh dalam perkuliahan. Studi Kasus ini memuat proses penyelidikan kasus terhadap seorang siswa hingga pemberian layanan bantuan.  
Semoga Tuhan membalas semua kebaikannya. Sebagai manusia yang secara kodrat kurang sempurna, praktikan menyadari bahwa dalam penyusunan laporan studi kasus ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu segala kritik dan masukan yang sifatnya membangun akan selalu praktikan nantikan, demi kesempurnaan tugas dan laporan selanjutnya.
Praktikan berharap semoga laporan studi kasus ini dapat bermanfaat bagi praktikan khususnya bagi guru dan klien sendiri. Dengan begitu  pengembangan ilmu pengetahuan yang ada di sekolah bisa di ikuti oleh siswa secara umum.

                                                                                    Malang , ...NOVEMBER 2012
                                                                                    Praktikan



   B.R.KOLING BARIKO
   NPM 090401020085








DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan ........................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................. ii
Daftar Isi   ........................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang.................................................................................... 1
B.     Pengertian Layanan Bimbingan.......................................................... 1
C.     Tujuan Layanan Bimbingan................................................................ 2
D.    Pentingnya Layanan Bimbingan......................................................... 2
E.     Teknik Pengumpulan Data.................................................................. 3
F.      Sumber Data....................................................................................... 4
G.    Konfidensialitas.................................................................................. 4
H.    Alasan Pemilihan Kasus...................................................................... 5
BAB II LAYANAN BIMBINGAN SISWA
A.    Indentifikasi Kasus............................................................................. 7
B.     Observasi.......................................................................................... 10
C.     Diagnosis.......................................................................................... 10
D.    Prognosis........................................................................................... 10
E.     Treatment......................................................................................... 12
F.      Follow UP ........................................................................................ 15
BAB III PENUTUP
A.    Simpulan .......................................................................................... 15
B.     Saran ................................................................................................18
Daftar Rujukan................................................................................................ 20


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagai bagian dari keseluruhan sistem  pendidikan, sekolah diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan dan kualitas pendidikan manusia Indonesia sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Salah satu komponen penting dalam  proses pembelajaran di sekolah adalah guru yang mempunyai tanggung jawab dalam upaya mencapai tujuan tersebut yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dalam  upaya membentuk guru yang profesional, calon guru harus mengetahui segala hal yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Sehubungan dengan itu guru diharapkan mampu melihat, memahami, dan mengantisipasi berbagai permasalahan yang timbul dalam  proses pembelajaran.
            Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan kegiatan yang sangat penting yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa kependidikan. Melalui praktek ini mahasiswa dapat mengetahui tugas-tugas guru secara riil di sekolah. Program ini bertujuan untuk menyiapkan mahasiswa sebagai calon guru yang profesional, sehingga dapat mengaplikasikan antara teori yang diperoleh dari kuliah dengan praktek di lapangan.

B.     Pengertian Layanan Bimbingan
           Studi kasus merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan berbagai teknik pendekatan untuk mengumpulkan data meliputi aspek pribadi secara lengkap serta lingkungannya. Dalam  buku Petunjuk Pelaksanaan PPL UNIKAMA  (2012/2013:29) disebutkan bahwa praktik layanan studi kasus kesulitan belajar bidang studi adalah latihan melaksanakan kegiatan layanan belajar dan layanan bimbingan siswa bermasalah serta layanan kepada siswa lainnya yang menjadi kewenangan guru, baik bersifat preventif, distributif, maupun development
C.    Tujuan Layanan Bimbingan
     Berdasarkan beberapa definisi serta pengertian yang dipaparkan oleh para ahli, dapat dilihat dan disimpulkan tujuan dari bimbingan itu sendiri antara lain:
1.      Dapat mengenalkan bentuk kepribadian siswa.
2.      Membantu siswa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
3.      Mengidentifikasi siswa dalam kesulitan belajar.
4.      Mengembangkan cara pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa
5.      Membantu siswa untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan cita-cita siswa itu sendiri.
6.      Bagi calon pendidik, terlatih untuk memecahkan  masalah dan menetapkan alternatif pemecahan yang baik.


D.    Pentingnya Layanan Bimbingan
                 Secara umum bimbingan layanan ini memberikan beberapa manfaat  yang penting diantaranya:
1.      Guru Praktikan
Hasil dari pembuatan laporan layanan bimbingan siswa ini dapat digunakan sebagai masukan agar nantinya dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan kemampuan siswa secara menyeluruh baik situasi maupun kondisi siswa.
2.  Siswa
Hasil layanan bimbingan ini dapat digunakan siswa untuk:
a.    Mengenal dan memahami dirinya dengan baik.
b.   Mendapatkan bantuan dalam mengidentifikasi masalah dan upaya pemecahannya.
c.    Memperoleh  informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajar.
      3.  Guru BK/Konselor
Sebagai bahan pertimbangan dalam membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar atau bermasalah.
4.   Guru Bidang Studi
Kerap kali guru sering menghadapi siswa dengan karakter dan masalah yang berbeda-beda. Pelaksanaan bimbingan siswa yang baik dan tepat akan membantu menangani siswa yang sedang bermasalah dengan lebih cepat, sehingga tidak mengganggu proses belajar mengajar di kelas serta dapat dijadikan sebagai cara dalam  meningkatkan prestasi anak didik dalam bidang studi yang bersangkutan.
E.     Teknik Pengumpulan Data
  Untuk memperoleh data yang ada pada siswa atau siswa, penulis menggunakan beberapa metode khusus untuk menjamin kevaliditasannya. Beberapa metode yang digunakan adalah:
1.      Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja, melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki. Dalam hal ini, praktikan menggunakan pengamatan  secara langsung dengan siswa pada saat kegiatan pembelajaran di kelas
2.      Wawancara
Wawancara ialah suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara tanya jawab antara interviewer (penanya) dengan  responden (Sukardi, 1984: 118). Dengan kata lain, wawancara merupakan pengamatan langsung dengan cara berinteraksi atau komunikasi  dengan siswa itu sendiri. Komunikasi ini dilaksanakan dengan beberapa sumber diantaranya melalui siswa itu sendiri, teman dekat siswa, guru pengajar, dan guru konselor (BK).
3.      Angket
Angket adalah seperangkat pertanyaan yang harus dijawab oleh responden, yang digunakan untuk mengubah berbagai keterangan yang langsung diberikan oleh responden menjadi data. Pertanyaan yang disediakan dalam hal berupa data siswa, orangtua siswa dan berbagai permasalahan yang ada pada siswa.
4.      Dokumentasi
Data ini berasal dari beberapa data-data hasil prestasi siswa selama belajar di sekolah, misalnya nilai ulangan harian dan  tugas.
F.     Sumber Data
      Sumber data yang digunakan yaitu guru mata pelajaran IPS TERPADU (di SMP Advent Malang yang berperan sebagai informan dalam penelitian ini, siswa SMP Advent  Malang yang berperan sebagai siswa.
G.    Konfidensialitas
     Untuk mendapatkan kepercayaan dari siswa maka pembimbing harus bertanggungjawab terhadap kerahasiaan pribadi siswa dan harus berpegang teguh pada kode etik bimbingan dan penyuluhan. Sesuai dengan kode etik bimbingan dan penyuluhan, bahwa seorang konselor atau pembimbing harus dapat memegang atau menyimpan rahasia dengan sebaik-baiknya.
     Menyimpan data tersebut adalah tanggung jawab konselor. Hal ini sesuai dengan salah satu pernyataan yang tercantum dalam kode etik jabatan konselor, bab  IV tentang kegiatan profesi yang berbunyi :
Butir 1. 1 "Catatan tentang diri siswa yang meliputi data hasil wawancara, surat menyurat, perekaman, dan data lain, semuanya merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan siswa, untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor, asalkan identitas siswa dirahasiakan".
Butir 1.4 "Adalah kewajiban konselor untuk memegang rahasia siswa, kewajiban ini tetap berlaku walaupun dia tidak lagi menangani siswa atau tidak lagi  berdinas sebagai konselor" (Munandir, 1989).
     Oleh karena itu nama/identitas dalam studi kasus ini hanya bersifat fiktif. Dengan adanya penyimpanan atau kerahasiaan nama/identitas ini maka siswa akan mau memberitahukan keadaan dirinya sampai dengan permasalahan yang sangat pribadi. Jadi jika nama/identitas yang ada pada laporan layanan bimbingan ini ada kesamaan dengan subyek lain, maka hal itu dianggap sebagai suatu yang kebetulan.
H.    Alasan Pemilihan Kasus
      Dalam penyusunan layanan bimbingan kesulitan belajar siswa ini, praktikan memilih Kornelius  (Fiktif) dengan alasan sebagai berikut:

a.       Siswa kurang memperhatikan pelajaran yang disampaikan jika duduk di belakang
b.      Siswa kurang suka bergabung bersama teman-temannya
c.       Nilai ulangan harian siswa di bawah KKM
d.      Siswa sering tidak mengerjakan tugas
e.       Siswa lebih senang bermain dan  bermain di kelas  daripada menyimak pelajaran
   Dari lima alasan  yang dikemukakan di atas berarti siswa memiliki masalah  khusus yang mana dapat mengganggu  prestasi belajar siswa di kelas. Kasus yang dipilih dalam  laporan studi kasus ini yaitu kasus siswa yang mencakup masalah belajar yang terbukti dengan hasil tugas siswa mampunyai nilai dibawah rata-rata kelas. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bahwa siswa memerlukan perhatian khusus atas masalahnya dan pentingnya masalah siswa untuk segera ditangani, maka praktikan mengangkat kasus siswa sebagai laporan studi kasus untuk dicarikan pemecahan masalahnya.























BAB II
LAYANAN BIMBINGAN SISWA

Layanan  kesulitan belajar konseli dilaksanakan melalui beberapa langkah yang tersusun secara sistematis. Langkah-langkah yang ditempuh dalam kegiatan layanan bimbingan konseli ini adalah sebagai berikut:
a.       Indentifikasi kasus
  1. Diagnosis
  2. Prognosis
  3. Treatment (pemberian bantuan)
  4. Follow Up (tindak lanjut)
Berikut ini adalah penjelasan secara rinci dari langkah-langkah kegiatan layanan bimbingan konseli di atas.
A.    Indentifikasi Kasus
Identifikasi kasus adalah pengumpulan data tentang konseli dengan tujuan untuk menentukan konseli yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar dan memilih konseli yang memerlukan bantuan. Dalam masa praktek yang sudah berjalan 2,5 bulan di SMP Negeri 5 Malang nampak terdapat keanehan yang dilakukan konseli dalam proses belajar mengajar. Adapun identitas konseli adalah sebagai berikut:

Identitas Konseli
1.1 Nama Lengkap                       : Kornelius vendi (fiktif)
1.2 Jenis Kelamain                       : LAKI-LAKI
1.3 Tempat/tgl lahir                      : Malang 18-08-1996(fiktif)
1.4 Alamat:
                 a. asal                          : MALANG
                 b. kost                         :
1.5 Agama                                    : KATHOLIK
1.6 Suku Bangsa                          : INDONESIA
1.7 Kelas                                      : IX
A.    Identitas Orang Tua (Ayah)
9.1 Nama                                      : Irfan (fiktif)
9.2 Agama                                    : Islam
9.3 Tempat/Tgl Lahir                   : Malang
9.4 Alamat                                   : Malang
9.5 Pendidikan Terakhir               : Sma
9.6 Pekerjaan                                : Swasta
B.     Identitas Orang Tua (Ibu)
10.1 Nama                                    : Marlina(fiktif)
10.2 Agama                                  : Katholik
10.3 Tempat/Tgl Lahir                 : Banyuwangi
10.4 Alamat                                 : Malang                     
10.5 Pendidikan Terakhir             : Sma
10.6 Pekerjaan                              : Swasta
Hubungan dengan sekitarnya
Hubungan dengan orang tua                           : biasa
Hubungan dengan saudara                             : biasa
Hubungan dengan guru                                  : biasa
Hubungan dengan teman di sekolah               : biasa (ada teman yang menjengkelkan)
Hubungan dengan teman di luar sekolah        : baik

Untuk memperoleh data yang ada pada konseli atau konseli, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data yaitu observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penyebaran angket, wawancara, observasi dan dokumentasi diperoleh data sebagai berikut:
1.      Angket Daftar Cek Masalah (DCM)
      Masalah Belajar
1)      Hanya  belajar bila ada ulangan saja
2)      Ada pelajaran tertentu yang tidak di sukai
3)      Tidak merencanakan bahan apa yang akan di pelajari
4)      Tidak mempunyai daftar belajar/jadwal belajar
2.    Wawancara
Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan komunikasi langsung dengan konseli. Wawancara ini bersifat langsung. Penulis berkomunikasi dengan konseli dalam bentuk tanya jawab untuk memperoleh keterangan lebih lanjut dari data yang diperoleh melalui angket dan sumber lain.
Pelaksanaan wawancara ini diciptakan dalam suasana yang akrab dan santai agar konseli tidak ragu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya dan mengungkapkan permasalahannya. Dari hasil wawancara diperoleh data yang pada dasarnya sama dengan data-data yang ada dalam pengisian angket antara lain:
1)     Merasa sering malas belajar karena mengalami kesulitan dalam memahami isi pelajaran.
2)     Konseli mudah marah dalam kelompok.
3)     Konseli tidak memiliki uang jajan yang cukup

B.    Observasi

Data dikumpulkan melalui pengamatan secara langsung aktivitas, tingkah laku, dan sikap konseli. Pengamatan dilakukan di dalam  kelas selama proses belajar mengajar pada mata pelajaran IPS. Berikut ini adalah data-data yang diperoleh dari hasil observasi:
1.      Kurangnya keaktifan dan keterlibatan konseli tersebut selama proses belajar mengajar berlangsung
·         Konseli merupakan tergolong konseli yang suka diam dan jarang mengikuti pelajaran dengan serius.
 Bakat
Konseli memiliki bakat di bidang olahraga (sepak bola)

C.    Diagnosis

Diagnosis adalah langkah menemukan masalah atau mengidentifikasi masalah. Dari diagnosis ini dapat diperoleh data tentang konseli dan permasalahannya. Tahap ini merupakan tahap untuk berusaha menemukan sampai sejauh mana konseli dapat mencapai berbagai tujuan belajar.
1.      Identifikasi masalah.
         Tujuan dari identifikasi masalah adalah untuk mengklasifikasikan masalah secara rinci, adapun masalah konseli yaitu konseli tidak bisa mengatur jadwal belajar di rumah, konseli belajar apabila ada ulangan saja, waktunya habis hanya untuk bermain dengan teman-teman dan membantu orang tua, sehingga waktu konseli banyak terbuang.
         Di dalam kelas konseli sering tidak serius mengikuti pelajaran. Selain itu, konseli tidak pernah serius apabila menghadapi ulangan harian.
Dua  hal tersebut merupakan beberapa faktor penyebab hasil ulangan konseli tidak memuaskan.
2.      Menentukan sumber penyebab masalah (etiologi)
Tahap etiologi merupakan tahap mencari faktor-faktor penyebab masalah konseli. Dari beberapa langkah yang telah dilakukan, ada dua penyebab masalah yang dihadapi konseli, yaitu:
a.       Faktor dari dalam diri konseli (factor intern)
1)      Konseli kurang bersemangat dalam mengikuti proes pembelajaran
2)      Saat guru menjelaskan konseli kurang memperhatikan
3)      Konseli banyak menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman-temannya
4)      Kurangnya motivasi belajar
5)      Belum bisa membagi waktu antara bermain dan belajar
6)      Menyepelekan tugas
b.       Faktor dari luar diri konseli (faktor ekstern)
1)      Lingkungan  Keluarga
·         Ayah dan ibu pulang kerja terlalu petang
·         Pertentangan ayah dan ibu menganggu pikiranku
·         Hidup dalam keluarga yang tidak harmonis
·         Kehidupan di rumah kurang teratur
·         Keluarga kami kurang tolong-menolong

2)      Lingkungan sekolah
·         Peraturan sekolah terlalu menekan saya
·         Berberapa mata pelajaran di anggap tidak perlu
·         Teman saya selalu menjengkelkan
·         Tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam sekolah
·         Suasana sekolah tidak menyenangkan

D.    Prognosis

Prognosis adalah suatu langkah untuk menentukan jenis bantuan apa yang sesuai dan dapat diberikan kepada konseli. Jenis bantuan yang diberikan tergantung pada lokasi masalah dan latar belakang masalah yang dihadapi. Maka dari itu, masalah yang dialami konseli harus segera dibantu dengan harapan:
1.      Konseli dapat berkonsentrasi dalam pelajaran
2.      Konseli dapat mengatur jadwal belajarnya
3.      Konseli bersemangat dalam mengikuti pelajaran
4.      Prestasi belajarnya dapat meningkat
5.      Konseli tidak lagi suka ribut di kelas
6.      Konseli tidak lagi memilih-milih dan mengkotak-kotakkan pelajaran yang akan dipelajari dan ditekuni
                  Namun, apabila masalah konseli tidak segera dibantu maka:
1.      Konseli tidak dapat berkonsentrasi dalam pelajaran
2.      Konseli tidak dapat belajar teratur
3.      Konseli tetap tidak bersemangat dalam mengikuti pelajaran
4.      Prestasi konseli akan semakin merosot
5.      Konseli akan terus tidak serius belajar  dan tidak mau bertukar pikiran ketika mengalami kesulitan dalam pelajaran
6.      Konseli akan tetap memilih-milih dan mengkotak-kotakkan pelajaran yang akan dipelajari dan ditekuni.

E.    Treatment

          Treatment merupakan pertolongan atau bantuan yang diberikan kepada konseli sesuai dengan jenis dan latar belakang masalah yang dihadapi konseli. Tujuan dari treatment ini adalah untuk membantu konseli menemukan alternatif pemecahan masalah yang sedang dihadapinya. Dari tahap ini diharapkan masalah konseli dapat diatasi dengan baik.




Beberapa bantuan yang diberikan sebagai berikut:
1.       Bantuan yang direncanakan
a.               Memberikan motivasi dan arahan yang jelas kepada konseli tentang cara belajar yang baik sehingga konseli dapat memperbaiki prestasi belajarnya yang tergolong rendah
b.              Memberikan pengertian dan motivasi untuk masalah yang berhubungan dengan kurikulum
c.               Melakukan pendekatan dengan orangtua konseli dan memberikan saran untuk terus memantau kegiatan dan jadwal belajar konseli terutama ketika di rumah agar konseli bisa memperbaiki nilai-nilai dalam pelajarannya.
2.       Bantuan yang terlaksana
1.      Memberikan motivasi dan arahan yang jelas kepada konseli tentang cara belajar yang baik sehingga konseli dapat memperbaiki prestasi belajarnya dengan cara:
1)      Menyarankan konseli untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari termasuk jadwal belajar di rumah.
2)      Memberi informasi dan saran tentang cara memanfaatkan waktu luang dan membagi waktu dengan baik
3)      Memberi informasi dan saran tentang cara belajar yang efektif dan efisien.
4)      Membuat catatan-catatan penting atau rangkuman tentang bidang studi yang dirasa sulit sehingga mudah mengingatnya.
5)     Menyarankan agar konseli tidak segan-segan untuk bertanya baik kepada teman maupun guru bidang studi jika mengalami kesulitan dalam belajar.
6)      Menyarankan agar konseli berusaha untuk konsentrasi dalam belajar baik di sekolah maupun di rumah.
7)      Memberikan pengertian kepada konseli bahwa semua pelajaran pasti memiliki manfaat yang berarti untuk dirinya.
8)      Memberikan pengertian bahwa pelajaran di sekolah tidak akan berat jika konseli berusaha belajar dengan sungguh-sungguh sehingga pelajaran apapun bisa dimengerti termasuk pelajaran yang bersifat pemahaman seperti IPS.
9)      Menyarankan agar konseli tidak perlu takut tehadap ulangan jika konseli belajar dengan giat sehingga siap menghadapi ulangan dan mendapat nilai memuaskan.
2.      Pembelajaran
Pada saat pembelajaran, praktikan telah berusaha dengan keras untuk menerapkan metode pembelajaran yang mampu menghidupkan kelas dan disenangi oleh konseli (konseli merasa enjoy yaitu dengan memberikan selingan guyonan saat pelajaran). Selain itu, praktikan telah berusaha menggunakan cara-cara belajar, penjelasan materi yang sesuai dengan tingkat pemahaman konseli. Karena konseli cenderung ribut ketika di kelas, maka praktikan mencoba melibatkan konseli di dalam pembelajaran yang aktif. Sering praktikan menunjuk konseli untuk mengemukakan pendapatnya, selain itu, di dalam proses diskusi ketika presentasi, praktikan menunjuk konseli untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas sehingga konseli aktif dan tertarik terhadap pelajaran yang disajikan. Hal ini diharapkan bisa mendorong konseli untuk lebih mudah dalam memahami pelajaran dan lebih mengena.  Hal ini berdampak baik terhadap nilai tugas setelah dilakukan pembelajaran. Meski sebelumnya konseli terkadang telat dalam mengumpulkan tugas, secara berangsur-angsur, untuk tugas berikutnya, konseli rajin mengumpulkan tugas serta lebih bersemangat dalam belajar.
c. Bantuan yang belum terlaksana
a.            Home Visit
Adapun hal-hal yang menyebabkan belum terlaksananya usaha ini adalah:
            Kesulitan menentukan waktu dan kesempatan dikarenakan terbatasnya
waktu PPL dan banyaknya kesibukan-kesibukan dalam persiapan tugas mengajar.
b.           Melakukan pendekatan dengan orangtua konseli dan memberikan saran untuk terus memantau kegiatan dan jadwal belajar konseli terutama ketika di rumah agar konseli bisa memperbaiki nilai-nilai dalam pelajarannya.

F.     Follow Up

Follow up adalah tindakan atau usaha untuk mengetahui keefektifan suatu usaha konseling yang telah dilakukan. Metode yang digunakan dalam langkah ini adalah penilaian, wawancara, analisis dokumentasi, dan observasi.
Metode penilaian dilakukan oleh praktikan dengan cara  melihat nilai konseli setelah diberi tindakan. Nilai konseli menunjukkan adanya peningkatan terutama pada nilai pelajaran IPS. Sementara itu, metode wawancara dilakukan praktikan untuk menggali respon konseli berkaitan dengan saran-saran yang diberikan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa konseli lebih mudah untuk mengerjakan tugas dari guru dan dia lebih semangat mengikuti pelajaran dan belajar secara teratur di rumah setelah ada masukan-masukan yang diberikan oleh praktikan.
Selain dua metode di atas, praktikan juga menggunakan metode observasi, yaitu mengamati konseli dalam mengikuti pembelajaran. Dari hasil pengamatan menunjukkan konseli mempunyai motivasi lebih dalam mengikuti pembelajaran. Konseli lebih aktif mengikuti  pembelajaran, dengan penuh perhatian dan tampak selalu berusaha untuk mengerjakan tugas dari guru dengan sebaik mungkin. Hasil PR maupun ulangan harian konseli juga meningkat terus, dimana pada PR sebelumnya konseli mendapat nilai rendah  dan melakukan remedi sebanyak 1 kali, pada PR berikutnya konseli mendapatkan nilai lebih baik dari sebelumnya, selanjutnya treatment terus diberikan sehingga pada ulangan Benua dan samudra, nilai konseli bisa di katakan baik sehingga tidak perlu mengikuti remidi seperti sebelumnya. Karena keterbatasan waktu PPL di SMP ADVENT Malang, untuk bimbingan selanjutnya dilanjutkan oleh pihak sekolah baik guru, wali kelas, maupun BK dengan memberikan laporan layanan studi kasus ini untuk mendapat pantauan lebih lanjut






















BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
1.      Setelah melakukan langkah-langkah dalam layanan bimbingan konseli, dapat disimpulkan permasalahan yang dihadapi konseli antara lain:
a.       Konseli sering tidak siap dalam menghadapi ulangan,
b.      Konseli cenderung tidak aktif ketika pelajaran sedang berlangsung,
c.       Konseli belajar hanya ketika akan ada ulangan,
d.      Konseli sukar memusatkan perhatian pada waktu belajar karena lebih suka bermain.
e.       Konseli mudah marah dalam kelompok
2.      Gejala umum yang diperlihatkan konseli pada awal observasi antara lain:
a.       Konseli tidak aktif ketika pelajaran berlangsung,
3.      Dari hasil observasi, gejala konseli memiliki masalah dapat juga dilihat dari data dokumenter berupa daftar nilai konseli.
4.      Dalam menghadapi permasalahan tersebut penulis memberikan beberapa bantuan sebagai upaya penyelesaian masalah. Adapun bantuan yang telah diberikan adalah memberikan motivasi dan arahan yang jelas kepada konseli tentang cara belajar yang baik sehingga konseli dapat memperbaiki prestasi belajarnya
5.      Setelah diberikan bantuan, konseli menampakkan perubahan baik dari sikap maupun hasil belajar untuk mata pelajaran IPS. Beberapa perubahan yang tampak dalam diri konseli antara lain:  konseli rajin mengerjakan tugas dari guru baik tugas mandiri maupun tugas terstruktur, konseli lebih aktif di kelas ketika pembelajaran berlangsung, dan nilai ulangan harian konseli meningkat, yang sebelumnya standar KKM kini di atas KKM.
B.     Saran
Faktor terbesar penyebab timbulnya permasalahan dalam diri konseli adalah  faktor dalam diri konseli sendiri yaitu motivasi belajar konseli yang kurang, untuk itu praktikan menyarankan kepada konseli beberapa hal berikut:
1.      Mampu membagi waktu secara tepat untuk kepentingan belajar dengan menyusun jadwal kegiatan secara seimbang dan berusaha dapat melaksanakannya dengan baik.
2.      Lebih konsentrasi pada waktu belajar dan menjauhkan diri dari pikiran-pikiran yang mengganggu atau kondisi tubuh yang mengganggu belajar misalnya rasa lelah dan capek.
3.      Mengerjakan tugas dengan tepat waktu
4.      Menghilangkan pikiran-pikiran dan pandangan-pandangan negatif tentang pelajaran-pelajaran tertentu yang hanya akan membuat motivasi belajar turun yang pada akhirnya berakibat pada rendahnya nilai atau hasil belajar.
5.      Lebih serius dalam mengikuti pelajaran
6.      Mau bertanya kepada teman atau guru jika tidak faham tentang pelajaran.

1.      Kepada Klien
Kepada klien disarankan agar dapat membagi waktu dengan baik, rajin belajar dan menyelesaikan tugas sekolah dengan baik, jika mengalami kesulitan dalam belajar ips maupun mata pelajaran yang lain hendaknya dibicarakan kepada siapa saja yang dianggap mampu membantu, menyadari bahwa keberhasilan di sekolah sangat menentukan keberhasilannya pada kehidupan di masa mendatang.



2.      Kepada Guru
Hendaknya guru selain mengajar juga mendidik selalu berperan sebagai motivator dan dinamisator bagi klien untuk dapat lebih meningkatkan prestasi, lebih bersifat terbuka dan mau mengerti serta memperhatikan segala permasalahan siswa, antar guru dan pihak BK hendaknya bekerja sama dalam rangka membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.
3.      Kepada Pihak BK
Konselor BK diharapkan menjalin komunikasi dengan siswa sehingga dapat mengetahui sejauh mana perkembangan yang telah dicapai siswa setelah mendapat bantuan, secara umum pihak BK diharapkan menjadi penghubung antara siswa dengan guru dan orang tua siswa sehingga permasalahan siswa dapat cepat diketahui dan terselesaikan, pihak BK diharapkan mampu memberi wawasan mengenai masalah yang dihadapi siswa, dan kegiatan bimbingan sebaiknya tidak terbatas pada hubungan formal di sekolah saja, melainkan berlangsung di luar jam sekolah.

4.      Kepada Orang Tua
          Sebagai orang tua hendaknya memahami keinginan anak, orang tua diharapkan selalu memantau semua kegiatan yang dilakukan oleh anaknya, baik itu kegiatan yang berhubungan dengan sekolah maupun kegiatan yang berada di luar sekolah, sehingga seorang anak akan merasa bahwa dirinya mendapatkan perhatian dari orang tuanya.






DAFTAR RUJUKAN
Gani, Ruslan. A. 1987. Bimbingan Karir. Bandung: Angkasa.
Partowisastro, Koestoer H. 1985. Bimbingan Penyuluhan di Sekolah-sekolah Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Sukardi, Dewa Ketut. 1984. Pengantar Teori Konseling Suatu Uraian Ringkas. Jakarta: Ghalia Indonesia.
UPT Program Pengalaman Lapangan Universitas Kanjuruhan Malang. 2012/2013. Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktek Lapangan (PPL) Keguruan. Malang:  Universitas Kanjuruhan  Malang.
Wagito, Bimo. Drs. 1985. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM Andi Offset.
Winkel, W. S. 1987. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.





LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan  Layanan Bimbingan Siswa ini telah disetujui
pada tanggal, ..… November 2012


Mengetahui                                                            Guru Pamong
Kepala Sekolah
SMP Advent malang





     Masanta sinaga,S.Pd                                           Meeryam lusiana,
                                                                            





Pratikan                                                                                Guru
                                                                               Bimbingan konseling
                                                                                             (BK)





B.R.Koling Bariko                           
090401020085

0 comments:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes